Hama dan Penyakit pada Lebah Apis cerana pada Pemeliharaan di Areal Hutan Tanaman Acacia Mangium dan Acacia crassicarpa

PENDAHULUAN

Pembangunan Hutan Tanaman Industri (HTI) sejak tahun 1984 ditujukan untuk pemenuhan bahan baku bagi industry pulp dan kertas di Indonesia. Kementerian Kehutanan (2014) menyatakan bahwa luasan HTI di seluruh Indonesia mencapai angka 10 juta hektar.Sedangkan di propinsi Riau, luas areal yang dijadikan HTI mencapai 820.000 ha (Jikalahari, 2004). Adapun jenis tegakan yang banyak dipilih oleh perusahaan pemegang areal konsesi HTI adalah Acacia mangiumdi lahan mineraldan Acacia crassicarpauntuk di lahan gambutAlasan pemilihan jenis A. mangiumdan A. crassicarpasalah satunya adalah berdasarkan kualitas kayunya yang berada pada kelas I s.d II (pada kategori berat jenis dan kadar air), kelas II (pada kategori kadar lignin dan selulose, dan kelas I s.d II (pada kategori dimensi serat) (Suhartati et. al., 2013). Selain itu, A. mangium termasuk jenis tanaman HTI yang memiliki kemampuan tumbuh yang cepat dan mudah tumbuh pada kondisi lahan yang rendah tingkat kesuburannya, seperti pada lahan marginal dengan pH rendah, tanah berbatu serta tanah yang tereorsi(Leksono dan Setyaji, 2003).

Menurut Mindawati (2010), keuntungan pembangunan hutan tanaman adalah bersifat ramah lingkungan, berperan dalam mengendalikan erosi tanah, mengatur tata air, memelihara kesuburan tanah, dan sampai batas tertentu membantu penyerapan karbon dari udara. Selain itu,homogenitas tegakan A. mangium dan A. crassicarpa memiliki keuntungan dalam hal penyediaan pakan bagi lebah madu.

Menurut Pribadi dan Purnomo (2013), potensi pakan lebah madu berupa nektar pada hutan tanaman A. crassicarpa umur 5 tahun dapat mencapai 84,59 liter/ha/hari. Sedangkan menurut Purnomo et al. (2009), pada areal hutan tanaman A. mangium umur 1 dan 3 tahundapat menghasilkan nektar masing masing sebanyak 83,25 liter/ha/hari dan 141,52 liter/ha/hari.

Apis cerana adalah salah satu jenis lebah lokal yang banyak dibudidayakan oleh masyarakat desa di Indonesia).Meskipun memiliki produktivitas yang lebih rendah dibandingkan lebah Apis mellifera, jenis ini banyak dipilih oleh masyarakat terutama daerah pedesaan karena kemudahan dalam usaha budidayanya (Morse, 1985) dan lebih tahan serangan hama tungau (Varroa destructor) yang menyebabkan kerusakan parah jika menyerang lebah Apis mellifera. Permasalahan yang kemudian muncul dalam pengelolaan lebah A. ceranayang dibudidayakan pada areal hutan tanamanA. mangium dan A. crassicarpa adalah serangan hama dan penyakit. Meskipun lebah  A. cerana memiliki kecenderungan lebih tahan terhadap serangan hama dan penyakit dibandingkan jenis lebah A. mellifera, serangan hama dan penyakit pada koloni lebah A. cerana yang ditempatkan pada areal hutan tanaman A. mangium dan A. crassicarpa dapat menyebabkan lari dari kotak pemeliharaanya (absconding).

Oleh sebab itu, tujuan penulisan artikel ini adalah untuk menginformasikan hama dan penyakit pada koloni lebah A. cerana yang ditempatkan pada areal hutan tanaman A. mangium dan A. crassicarpa beserta aspek pengendaliannya.

Hama

Definisi hama adalah organisme hidup yang kehadirannya adalah tidak diinginkan karena dapat menyebabkan kerusakan bahkan kematian pada tanaman, manusia ataupun hewan (dalam hal ini adalah lebah madu) (USAID, 2010).

Berbeda dengan penyakit,  ciri-ciri hama menurut Rianawaty (2011) antara lain (1) dapat dilihat oleh mata telanjang, (2) umumnya dari golongan hewan (tikus, burung, serangga, ulat dan sebagainya), dan (3) cenderung merusak bagian tertentu saja. Terdapat beberapa jenis hama yang menyerang koloni lebah A. cerana di hutan tanaman A. mangium dan A. crassicarpa, yaitu:

    1.Hama Ngengat lilin /Wax moth

Ngengat lilin (Galleria sp.)(Lepidoptera) merupakan salah satu kelompok serangga yang berasal dari ordo Lepidoptera yang menyerang sarang lebah A. cerana.Gejala koloni lebah A. cerana yang terserang hama ini adalah mengalami kemunduran pertumbuhan sisiran dan cenderung mengelompok pada satu sisi stup. Bahkan menurut Koetz (2013), meskipun jenis lebah A. cerana relatif lebih kuat dibandingkan A. mellifera, lebah A. cerana sangat rentan terhadap serangan hama wax moth. Sedangkan tanda kehadiran hama ini adalah keberadaan serat-serat kapas yang lengket dan bahkan terkadang serat kapas tersebut melengketkan antar sisiran (Gambar 1).Kerusakan yang ditimbulkan dimulai dengan memakan sisiran sarang yang terbuat dari lilin dan jika telah rusak maka hama ini akan mulai berkembang di dalam sarang.

Siklus hidup Galleria sp. serupa dengan anggota kelompok ordo Lepidoptera yaitu metamorphosis sempurna.Fase dimulai dari fase telur yang diletakkan di dalam sisiran sarang oleh ngengat betina dewasa pada malam hari dan ditempatkan pada lokasi yang tersembunyi agar tidak dapat ditemukan oleh lebah pekerja.Sekali bertelur, ngengat betina dewasa mampu menghasilkan 50-100 buitr telur (Somerville, 2007).Koloni yang memiliki anggota lebah pekerja yang relatif sedikit akan menjadi lebih rentan terhadap serangan hama ini (FAO, 2015). Selanjutnya telur akan menetas menjadi larva. Pada fase larva inilah merupakan fase yang paling berbahaya bagi koloni lebah A. cerana(Gambar 2).Hal ini disebabkan pada kondisi ini, larva Galleria sp. membutuhkan makanan yang sangat banyak untuk mempersiapkan fase pupa sehingga keadaan ini membuat kerusakan yang sangat berat pada sisiran sarang A. cerana(Somerville, 2007).

Pengendalian serangan wax moth dapat dilakukan dengan beberapa metode, yaitu menggunakan obat kimia dan pencegahan dengan memodifikasi stup. Penggunaan gas Phosphine menunjukkan efektivitasnya dalam mematikan seluruh wax moth pada seluruh fasenya (Somerville, 2007). Akan tetapi, penggunaan gas ini bersifat racun bagi koloni lebah sendiri dan bahkan berbahaya bagi manusia. Selain itu, residu dari gas ini juga diduga dapat mengendap pada sisiran sarang dan dapat mencemari madu terutama apabila sedang musim bunga atau koloni sedang pada fase produksi madu. Oleh sebab itu, gas ini dilarang digunakan sewaktu koloni lebah sedang produksi madu (FAO, 2015).

Tehnik pengendalian lainnya adalah melakukan modifikasi ukuran pintu keluar dan masuk kotak lebah. Tehnik ini mengadopsi metode yang digunakan untuk mencegah serangan hama kumbang yang menyerang koloni lebah Apis mellifera.Menurut Ellis et. al. (2002), pengecilan pintu masuk umum digunakan untuk mencegah masuknya hama small hive beetles pada koloni lebah A. mellifera. Modifikasi ukuran pintu keluar dan masuk ini dilakukan untuk mencegah ngengat betina untuk masuk dan meletakkan telur di dalam sarang. Modifikasi dilakukan dengan mengecilkan tinggi ukuran pintu masuk hingga seukuran lebah pekerja A. cerana (±0,4 cm). Tinggi tubuh ngengat betina Galleria sp. lebih dari 0,5 cm akan membuat ngengat betina ini kesulitan untuk masuk ke dalam koloni lebah A. cerana.

Selain itu, tingkat kesehatan koloni lebah A. cerana juga mempengaruhi ketahanan mereka terhadap organisme asing yang masuk. Ketidakseimbangan antara jumlah lebah pekerja dengan luas sisiran yang harus dierami juga menjadi factor pemicu yang dapat memancing wax moth untuk bertelur. Ketidakseimbangan ini salah satunya disebabkan oleh keberadaan ratu baru yang pergi keluar dari kotak dengan membawa sebagian anggota lebah pekerjanya untuk membentuk koloni baru (pecah koloni) sehingga menyisakan sisiran yang tidak tererami (Somerville, 2010).

       2.   Beruang Madu

Beruang madu (Helarctos malayanus) merupakan salah satu kelompok dari kelas mamalia yang menjadi hama bagi koloni lebah A. cerana. Hewan ini umumnya beraktivitas pada malam hari sedangkan pada siang hari akan bersembunyi di sarang mereka (Wong et. al., 2004). Menurut Pappas et. al. (2002), beruang madu memiliki ukuran tubuh hanya mencapai 70 cm pada bahunya, dan 100 s.d 140 cm jika dihitung dari kepala hingga kaki (Gambar 3). Sedangkan berat tubuhnya berkisar antara 27-65 kg dengan rata-rata mencapai 46 kg.Kukunya yang panjang, tajam dan melengkung memudahkan beruang madu untuk menggali tanah dan membongkar kayu. Sedangkan rahang yang kuat digunakan untuk  membongkar kulit kayu guna mencari serangga dan madu.Menurut Augeri (2005) beruang madu pada umumnya merupakan kelompok omnivora yang makanan utamanya adalah serangga seperti rayap, semut, larva kumbang dan kecoak hutan sedangkan buah-buahan adalah kelompok makanan kedua.Akan tetapi menurut Fredriksson (2005), kelompok hewan ini sangat suka dengan madu, terutama dari kelompok Trigona.

Gejala kerusakan yang disebabkan oleh hewan ini adalah hancurnya koloni beserta dengan kotak pemeliharaannya (stup) (Gambar 4). Pengamatan pada kotak lebah A. cerana yang diserang hewan ini menunjukkan bahwa beruang madu tidak hanya mengambil sisiran madu akan tetapi juga sisiran bee bread dan brood. Mayoritas serangan terjadi pada malam hari terutama pada kotak lebah A. cerana yang ditempatkan pada jalur lintasan beruang madu. Sedangkan tanda kehadiran beruang madu adalah berupa jejak kaki, cakaran kuku pada stup lebah A. cerana, dan kotorannya.

Menurut Fredriksson (2000) berubahnya habitat alami beruang madu yang disebabkan alih fungsi lahan dari hutan alam menjadi hutan tanaman A. mangium dan A. crassicarpa membuat populasi hewan ini menurun karena berkurangnya sumber pakan dan habitat.Berbeda dengan beruang yang hidup pada daerah dengan 4 musim, beruang madu tidak memiliki musim kawin tertentu. Beruang madu melahirkan di dalambatang kayu atau gua kecil dimana anak beruang dilindungi hingga mampu untuk beraktivitas bersama induknya (Fredriksson and M. de Kam, 1999).Menurut Fredriksson (2000), luas jangkauan beruang madu betina dan anak-anaknya mencapai 500 ha sedangkan beruang madu jantan mencapai 1500 ha.

Pengendalian serangan hama ini pada awalnya mengalami kesulitan karena beruang madu termasuk pada satwa liar yang dilindungi. Berdasarkan data yang diperoleh dari Konvensi Perdagangan International Satwa Liar atau CITIES (Conventional an International Trade In Endangered Spesies), beruang madu dimasukkan pada kategori Appendix I. Sehingga usaha pengendalian yang dilakukan lebih pada usaha pencegahan. Pemasangan plat seng dan peninggian standard stup minimal 2 meter merupakan salah satu solusi untuk mengatasi serangan beruang madu di areal hutan tanaman A. mangium dan A. crassicarpa (Gambar 6).

Penggunaan standar stup dengan minimal tinggi 2 meter yang dimodifikasi dengan seng plat menunjukkan efektivitas jika dibandingkan dengan standar stup tinggi 1 meter (Tabel 1). Hal ini disebabkan pada standar stup setinggi 1 meter masih berada dalam jangkauan beruang madu sehingga banyak stup yang dirusak oleh beruang madu. Pemasangan plat seng lebar (± 60 cm) dengan cara dililitkan pada standar stup bertujuan agar beruang madu tidak dapat memanjat karena kuku/cakar tidak dapat mencekram standard stup dengan kuat. Hal yang serupa juga digunakan untuk mencegah serangan beruang madu pada madu hutan. Menurut Rachim et. al. (2011), seng plat digunakan untuk mencegah beruang madu untuk naik ke pohon sialang tempat dimana lebah hutan bersarang.

     3.   Tabuhan

Tabuhan (Vespa sp.) atau tawon endas merupakan salah satu kelompok dari ordo hymenoptera yang menjadi hamaberbahaya bagi koloni lebah A. cerana yang ditempatkan di hutan tanaman A. mangium dan A. crassicarpa. Menurut Abrol (2006), jenis Vespa velutina dan Vespa magnifica merupakan predator utama lebah madu di Jammu dan Kashmir yang setelah selesai musim dingin, ratu tabuhan akan menyerang koloni lebah madu untuk mencari makan bagi dirinya dan larvanya. Setelah seluruh larva tersebut berubah menjadi tabuhan dewasa maka mereka mulai untuk mengembangkan koloninya tersebut.Siklus hidup tabuhan adalah metamorphosis sempurna.Siklus dimulai dari fase telur, larva, pupa, dan dewasa.Tabuhan biasa membuat luka pada buah, batang dan pucuk untuk mendapatkan nektar dan materi untuk membangun sarang. Akan tetapi jika pada kondisi tidak ada makanan, tabuhan akanmenyerang koloni lebah madu untuk mendapatkan gula dan protein (Antonicelli et al., 2003).Hal inilah yang menjadi dugaan penyebab utama terjadinya serangan tabuhan ke koloni lebah A. cerana yang ditempatkan pada hutan tanaman A. mangium dan A. crassicarpa.

Gejala yang ditimbulkan oleh serangan hama ini adalah berkurangnya jumlah lebah pekerja akibat dari dimangsa oleh tabuhan sampai pada merusak sisiran sarang. Pada gejala ringan, tabuhan akan menunggu lebah pekerja di depan pintu masuk dan bersiap untuk menangkap lebah pekerja A. cerana yang akan pergi. Sedangkan pada kondisi yang berat, tabuhan sudah dapat merusak struktur sarang dan tidak hanya memakan persedian makanan (madu dan bee bread) akan tetapi juga memangsa sel brood. Adapun tanda kehadiran tabuhan adalah keberadaan belasan sampai puluhan ekor tabuhan yang terbang di sekitar stup terutama terbang dalam posisi menunggu di depan pintu keluar dan masuk. Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan Abrol (2006) pada bulan Agustus dimana populsasi tabuhan sedang meningkat menunjukkan bahwa jumlah tabuhan yang menyerang koloni lebah A. cerana mencapai rata-rata 24,6 ekor/hari. Sedangkan jumlah lebah pekerja yang terbunuh rata-rata mencapai 18,3 ekor/hari (Tabel 2).

Tabel 2.  Jumlah tabuhan yang menyerang koloni lebah A. cerana pada bulan Agustus 2004.

Tanggal dilakukan pengamatanJumlah TabuhanJumlah Tabuhan yang Membawa Pulang Lebah A. cerana ke SarangnyaLebah Pekerja yang Terbunuh
325620
718422
1027414.71
1221419.04
1528317.27
1729510.07
2135411.42
2433515.15
2719526.31
3011327.27

Sumber: Abrol (2006)

Apabila serangan tabuhan tidak dilakukan antisipasi atau pengendalian akan berdampak terhadap kelangsungan koloni lebah A. cerana tersebut. Hal ini disebabkan lebah pekerja yang bertugas untuk mencari nektar dan pollen akan lama kelamaan habis dimangsa oleh tabuhan. Menurut Somerville (2010), koloni lebah A. cerana pada umumnya berisi 2000 s.d 5000 ekor lebah pekerja. Nest and Moore (2012) menambahkan bahwa sekitar 40% s.d 90% dari populasi lebah pekerja adalah bertugas untuk mencari makan. Sehingga jika tidak dilakukan langkah antisipasi populasi lebah pekerja yang mencari makan akan habis dalam waktu kurang dari 2 bulan (dengan asumsi populasi lebah pekerja yang mencari makan sekitar 50% dari total lebah pekerja yang mencapai 5000 ekor).

Beberapa metode pengendalian hama ini banyak tersedia seperti pembasmian secara fisik langsung terhadap tabuhan yang terbang di depan stup lebah A. cerana, menggunakan racun, membunuh ratu, membakar sarang, dan penjebakan dengan ikan asin. Akan tetapi metode-metode tersebut kurang efektif dalam mengendalikan serangan tabuhan. Menurut Abrol (2006), tehnik pengendalian yang efektif adalah berasal dari koloni itu sendiri. Jika koloni berada pada kondisi yang sehat maka mereka memiliki kemampuan untuk bertahan dari serangan hama dan penyakit yang datang.  Bahkan Ono et. al. (1987); Ichino and Okada (1994) mengatakan bahwa lebah pekerja A. cerana japonica akan mengerubungi tabuhan (Vespa simillima) hingga membentuk bola (balling) dan membunuh mereka dengan memanfaatkan panas tubuh yang berasal dari tubuh lebah pekerja A. cerana. Bahkan Abrol (2006) menambahkan bahwa tingkat kematian lebah pekerja lebih banyak terjadi apabila jumlah tabuhan yang menyerang sedikit. Hal ini disebabkan karena koloni lebah A. cerana tidak dapat bertahan secara teroganisasi dengan tehnik balling. Metode lain adalah  dengan melakukan pemindahan stup. Pemindahan stup juga dapat dilakukan ke lokasi yang tidak ada sarang tabuhannya. Pemindahan dapat dilakukan pada waktu malam hari atau jika dibutuhkan waktu lebih dari 1 hari, koloni lebah A. cerana dapat diberikan pakan tambahan berupa air gula.

     4.   Kelompok Hama Lain

Pengalaman menunjukkan bahwa selain 3 hama tersebut,terdapat beberapa hama lain yang menyerang A. cerana yang ditempatkan pada hutan tanama A. mangium dan A. crassicarpa, yaitu cicak, kadal, dan semut. Kerusakan yang ditimbulkan oleh cicak dan kadal adalah hanya akan mempredasi lebah pekerja. Akan tetapi jumlah lebah yang dimakan tidak banyak. Sedangkan semut akan menyerang persedian madu yang dikumpulkan oleh lebah pekerja. Akan tetapi, menurut Oldroy (2006), serangan berat semut Oecophylla smaragdina mampu membuat lebah A. cerana hijrah (absconding). Bahkan Koetz (2013) menambahkan bahwa hama minor pada lebah A. cerana adalah semut, katak, kadal, monyet, tikus pohon, burung wallet, dan harimau. Salah satu tehnik pencegahannya adalah dengan tidak menempatkannya secara langsung di tanah dan apabila menggunakan standar stup, maka wajib diberi oli ataupun kapur ajaib untuk mencegah binatang-binatang tersebut naik dan masuk ke dalam stup. Akan tetapi, kerusakan yang ditimbulkan tidak terlalu besar jika dibandingkan kerusakan yang disebabkan tabuhan, beruang madu, dan wax moth.

Penyakit

Pengertian penyakit adalah suatu keadaan yang menyimpang dari keadaan atau kondisi normal dari beberapa bagian organ ataupun system atau kombinasi dari semua hal tersebut yang merupakan manifestasi dari serangkaian gejala dan tanda (Schoenbach, 2000).Sedangkan menurut Rianawaty (2015), penyakit adalah sesuatu yang menyebabkan gangguan pada tanaman sehingga tanaman tidak bereproduksi atau mati secara perlahan-lahan.Karakteristik adalah (1) sukar dilihat oleh mata telanjang, dan (2) disebabkan oleh mikroorganisme (virus, bakteri, jamur atau cendawan) dan kekurangan unsur atau senyawa tertentu.Bahkan menurut Somerville (2005) penyakit dapat juga diakibatkan oleh kurangnya nutrisi terutama pollen seperti yang terjadi pada A. mellifera.

Berdasarkan pengamatan, serangan penyakit yang terjadi pada koloni lebah A. ceranayang ditempatkan pada hutan tanaman A. mangium dan A. crassicarpa lebih kepada kekurangan nutrisi berupa protein dibandingkan penyakit yang disebabkan oleh mikroorganisme. Menurut Pribadi and Purnomo (2013), kebutuhan protein lebah A. cerana di hutan tanaman A. mangium dan A. crassicarpa hanya bergantung pada tumbuhan bawah seperti Ageratum conyzoides dan Mimosa pudica yang keberadaannya tergantung pada intensitas cahaya yang masuk dan intensitasweeding yang dilakukan. Sehingga ketersediaan pollen akan menjadi sangat terbatas.

Tingkat kesehatan koloni lebah dapat dilihat dari persentase protein kasar (crude protein/CP) dari tubuh lebah pekerja A. cerana yang dipengaruhi oleh kualitas pakan yang dikonsumsi. Nektar diperlukan untuk memenuhi kebutuhan karbohidrat sedangkan pollen untuk memenuhi kebutuhan akan protein. Pada lebah A. cerana  yang ditempatkan pada areal hutan tanaman A. mangium dan A. crassicarpa menunjukkan penurunan tingkat kesehatan (yang dapat dilihat dari persentase crude protein) sebesar 0,034% per 30 hari dengan nilai CP berada di kisaran 31,30% s.d 33.20% (Pribadi dan Purnomo, 2013). Sehingga hal ini dapat mempengaruhi produktivitas madu yang diperoleh. Pengamatan menunjukkan bahwa produktivitas madu yang dihasilkan oleh lebah A. cerana yang ditempatkan pada areal hutan tanaman A. mangium dan A. crassicarpa akan menurun pada mulai pada bulan kedua sampai 10% (Purnomo et. al., 2009). Bahkan jika kondisi tersebut berlanjut, maka koloni lebah akan kabur (absconding).

Menurut Kleinschmidt (1982), salah satu penanda lebah yang sehat yaitu tubuh lebah mengandung CP antara 40% s.d 67 % dan untuk mendapatkan CP tubuh lebah dengan kisaran di atas 40% koloni lebah harus mengkonsumsi pollen dangan kualitas minimal mengandung protein 18 %. Menurut Mourizio (1975) pollen merupakan sumber protein yang diperlukan bagi pertumbuhan anak-anak lebah dan perkembangan lebah-lebah dewasa.Selain protein pollen juga mengandung lemak, vitamin dan mineral yang merupakan nutrisi penting bagi lebah. Menurut Dietz (1975), anakan lebah (brood) membutuhkan sebanyak 120 s.d 150 mg pollen untuk mencapai fase dewasanya. Protein yang terkandung dalam pollen berfungsi sebagai materi untuk pembentukan kelenjar hypopherengeal yang terletak pada bagian caput dari lebah yang berfungsi sebagai pembentuk royal jelly.

Beberapa usaha yang dapat digunakan untuk mengendalikan penyakit akibat kekurangan gizi ini, yaitu dengan melakukan agroforestry dan pemberian pakan pollen tambahan. Sistem agroforestri telah lama dikenal oleh masyarakat Indoensia terutama di pulau Jawa. Akan tetapi di Riau tehnik agroforestri belum banyak dilakukan oleh masyarakat. Pemanfaatan sela atau jarak tanam diantara tegakan A. mangium dan A. crassicarpa sebenarnya dapat dimanfaatkan untuk dilakukan penanaman tanaman sela. Hal ini telah dilakukan oleh Perhutani dan Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Pemulian Tanaman Hutan  yang mengijinkan masyarakat untuk memanfaatkan ruang yang berada di antara tegakan untuk ditanami tanaman pangan (FORDA, 2016). Kegiatan agroforestry dapat dilakukan dengan penanaman jenis tanaman penghasil pollen seperti jagung (Zea mays) (Almeida-Muradian et. al., 2005; Marchini et. al., 2006) dan sorgum (Sorghum sp.)(Pribadi dan Purnomo, 2013). Menurut Purnomo et. al. (2010), penanaman sorgum di antara tegakan A. mangium dan A. crassicarpa mampu meningkatkan tingkat kesehatan lebah A. cerana sebesar lebih dari 30% persen menjadi 58% dibandingkan lebah A. cerana yang tidak diberikan perlakuan tumpang sari (Gambar 6). Penanaman sorgum dilakukan dengan system bergilir setiap minggunya untuk menjamin ketersediaan pollen. Sorgum ditanam dengan menggunakan jarak tanam 25 cm setiap jalurnya (satu jalur setiap jarak tanam A. mangium atau A. crassicarpa). Pollen tanaman sorgum menunjukkan nilai protein sebesar 18,68% (Pribadi dan Purnomo, 2013). Sedangkan studi yang dilakukan oleh Modro et. al. (2007) dan Souza (2011) menyatakan bahwa kisaran nilai CP jagung yang diambil dari daerah Viçosa, Minas Gerais State, Brazil, adalah sebesar 21,58% s.d 28.27%. Berdasarkan hal tersebut maka diperoleh informasi bahwa penanaman tanaman sela jenis jagung dan sorgum dapat meningkatkan CP tubuh lebah A. cerana.

Bagi perusahaan HTI, kegiatan agroforestry merupakan sesuatu yang tidak menarik dan cenderung mengganggu tanaman pokok mereka (A. mangium dan A. crassicarpa). Akan tetapi, sebagai perusahaan HTI mereka memiliki kewajiban untuk memberdayakan masyarakat sekitar areal konsesi yang bersifat berkelanjutan. Salah satunya adalah dengan melakukan kegiatan agroforestry. Nilai tambah yang diperoleh mungkin tidak secara langsung didapat, akan tetapi secara tidak langsung, misalnya masyarakat sekitar areal konsesi dapat mulai merasakan keberadaan atau kehadiran hutan tanaman yang memberikan dampak positif bagi mereka. Sehingga hal ini dapat mengurangi potensi konflik antara perusahaan HTI dengan masyarakat yang tinggal di sekitar areal konsesi. Selain itu, durasi yang hanya 1 tahun bagi tanaman sela seperti jagung dan sorgum dimungkinkan tidak terlalu mengganggu tanaman pokok (A. mangium dan A. crassicarpa).

Meskipun demikian, penggunaan jagung dan sorgum sebagai jenis tanaman agroforestry untuk penyedia sumber pakan berupa pollen memiliki beberapa keterbatasan. Salah satunya adalah tingkat efektivitas penggunaannya pada tegakan di atas 1 tahun. Hal ini disebabkan karena jenis tanaman penghasil pollen ini sangat membutuhkan cahaya untuk tumbuh dengan baik. Intensitas cahaya dapat menjadi salah satu faktor pembatas pada suatu tahap pertumbuhan tanaman. Peningkatan intensitas cahaya pada suatu tahap pertumbuhan secara tidak langsung dapat meningkatkan proses fotosintesis (Pratiwi, 2010). Menurut Azrai et. al. (2014); Bunyamin dan Aqil (2015) masalah utama pengembangan jagung dan sorgum sebagai tanaman sela adalah rendahnya intensitas cahaya. Hal ini tidak sesuai dengan karakterisitik jagung dan sorgum sebagai tanaman C4 yang sensitif terhadap cahaya rendah. Taiz and Zeiger (1998) dan Cruz (1997). Sehingga jenis tanaman ini hanya efektif digunakan pada areal penanaman A. mangium dan A. crassicarpa berusia di bawah 1 tahun.

Metode lain adalah dengan pemberian pakan tambahan berupa protein. Terdapat dua jenis protein yang dapat diberikan pada koloni lebah A. cerana yaitu protein buatan dan alami (bee bread). Dibandingkan protein buatan, protein alami yang berasal dari bee bread  lebah hutan (Apis dorsata) lebih dipilih karena salah satu alasannya adalah ketersediaannya di alam yang melimpah dan belum termanfaatkan (Purnomo et. al., 2010). Pemberian bee bread A. dorsata sebagai protein tambahan dapat meningkatkan tingkat kesehatan lebah A. cerana sebanyak 30% pada pemberian di bulan kedua setelah penempatan di A. mangium (Purnomo et. al., 2010).

Kesimpulan

  1. Hama yang menyerang koloni lebah cerana yang ditempatkan pada areal hutan tanaman A. mangium dan A. crassicarpa adalah wax moth (ngengat lilin), beruang madu, dan tabuhan. Sedangkan penyakit yang umum menyerang koloni lebah A. cerana yang ditempatkan pada areal hutan tanaman A. mangium dan A. crassicarpa adalah kekurangan nutrisi sebagai akibat ketidaksediaannya pollen (tepung sari).
  2. Keberadaan hama dan penyakit pada lebah cerana salah satunya sangat dipengaruhi oleh tingkat kesehatan koloni lebah yang dapat dilihat dari nilai crude protein tubuh lebah pekerja. Koloni yang sehat dapat mempertahankan koloninya dari serangan hama dan penyakit. Sehingga tingkat kesehatan lebah pekerja harus menjadi perhatian dalam budidaya lebah A. cerana pada hutan tanaman A. mangium dan A. crassicarpa.

Ucapan terima kasih

Penulis mengucapkan terima kasih kepada tim lebah madu Balai Litbang Teknologi Serat Tanaman Hutan dan pegawai CD/CSR PT Arara Abadi atas bantuannya dalam pelaksanaan kegiatan pengembangan lebah madu di areal konsesi PT Arara Abadi.

Daftar Referensi

Abrol, D. P. (2006). Defensive Behaviour of Apis cerana F. Against Predatory Wasps. J Apic Sci 50(2),p: 39

Antonicelli, L., Bilo, M.B., Napoli, G., Farabollini and Bonifazi, F. (2003). European Hornet (Vespa crabro) Sting: A New Risk Factor for Life-Threatening Reaction in Hymenoptera Allergic Patients? Allergy. European Annals of Allergy and clinical Immunology 35(3),p: 199-203

Almeida-Muradian, L. B., Pamplona, L. C., Coimbra, S., and Barth, O. M. (2005).Chemical Composition and Botanical Evaluation of Dried Bee Pollen Pellets. Journal of Food Composition And Analysis 18 (7), p: 105-111.

Augeri, D.M. 2005. On The Biogeographic Ecology of The Malayan Sun Bear. Cambridge Wild Life Research Group Department of Anatomy Faculty of Biological Sciences, University of Cambridge

Aqil, M. dan Bunyamin, Z. (2015).Pengelolaan Air Tanaman Sorgum. Inovasi Teknologi dan Pengembangan, p: 188-192

Cruz, P. (1997). Effect of Shade on The Growth and Mineral Nutrition of C4 Perennial Grass Under Field Conditions. Plant and Soil 188, p: 227-237

Dietz, A. (1975). Nutrition of the Adult Honey Bee. Dadant and Sons Hamilton, Illonois

Ellis Jr, J.D., Delaplane, K.S., Hepburn, R., Elzen, P.J. (2002). Controlling Small Hive Beetles (Aethina Tumida Murray) in Honey Bee (Apis Mellifera) Colonies Using A Modified Hive Entrance.  American Bee Journal 142 (4), p: 288-290

Food and Agriculture Organization. (2010). Global Forest Resources Assessment 2010: Main report, FAO Forestry Paper 163, Food and Agriculture Organization, Roma

Fredriksson G. M. and de Kam, M. (1999). Strategic Plan for The Conservation of The Sungai Wain Protection Forest, East Kalimantan, Indonesia. The International Ministry of Forestry and Estate Crops-Tropenbos Kalimantan Project, p: 1-46

Fredriksson, G. M. (2005). Human-sun bear conflicts in East Kalimantan, Indonesian Borneo. Ursus 16(1), p: 130-137

Fredriksson, G.M. (2005). Predation on Sun Bears by Reticulated Python in East Kalimantan, Indonesian Borneo. The Raffles Bulletin of Zoology 53(1), p: 165-168

Ichino, H and Okada, I. (1994).Japanese Honey Bees Living in Hornet Nest.HoneybeeScience15(3), p: 123–124

Jikalahari.(2004). RTRWP dan Masa Depan Hutan Alam Riau; Sebuah Masukan dan Bahan Pertimbangan Untuk Revisi Perda No. 10 Tahun 1994 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi (RTRWP).http://www.jikalahari.org. diakses 2 Februari 2016

Kementerian Kehutanan. (2014). Kebijakan Pembangunanan Hutan Tanaman Industri: Presentasi. Jakarta: Direktorat Jenderal Bina Usaha Kehutanan, Kementerian Kehutanan, Jakarta

Kleinschmidt, G.J. and Kondos, A.C. (1976).The Influence of Crude Protein Levels on Colony Production. Australian Beekeeping 80, p: 251-257

Koetz, A. (2013). The Asian Honey Bee (Apis cerana) and Its Strains – with Special Focus OnApis cerana Java Genotype. http:// asianhoneybee.net.au/wordpress/wp-content/uploads/2013/03/AHB-behaviour-lit-review-FINAL2013.pdf. Diakses 20 Maret 2016

Leksono, B., dan Setyaji, T., 2003.Teknik Persemaian dan Informasi Benih Acacia mangium. Seri GN-RHL. Pusat Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan, Yogyakarta.

Mindawati, N. (2010). RPI Pengelolaan Hutan Tanaman Penghasil Kayu Pulp.http://www.forda-mof.org/files/RPI_7_Pengelolaan_HT_Penghasil_Kayu_Pulp.pdf. Diakses 3 September 2012.

Morse, R. A., and T. Hooper. (1985). The Illustrated Encyclopedia of Beekeeping. Blanford Press, England.

Mourizio, A. (1975). Bienenbotanik. Dadant and Sons Hamilton, Illonois

Nest B.N.V. and Moore, D. (2012). Energetically Optimal Forag­ing Strategy is Emergent Property of Time-Keeping Be­havior in Honey Bees. Behavioral Ecology 23, p: 649–658.

Oldroyd, B.P. and Wongsiri, S. (2006). Asian Honey Bees: Biology, Conservation and Human Interactions. Harvard University Press Cambridge, Massachusett

Ono M., I., Okada., and Sasaki, M. (1987). Heat Production by Balling in The Japanese Honeybee, Apis cerana japonica as A Defensive Behavior Against The Hornet (Vespasimillima xanthoptera)(Hymenoptera: Vespidae). Experientia43, p: 1031 – 1032

Pappas, K., and Mc Lennan, L. (2002).Malayan Sun Bear.

http://www.honoluluzoo.org/ zookeepers_Journal/sunbear.doc.Diakses tanggal 12 Juli 2013. Pukul 13.20 WIB

Pratiwi, G. R. (2010). Tanggap Pertumbuhan Tanaman Gandum terhadap Naungan. Widyariset 13(2), p: 37-45

Pribadi, A and Purnomo.(2013). Potency Usage of Plantation Forest of Acacia mangium and Acacia crassicarpaas Source of Honeybee Forage and ItsProblem. Procedings of International Wood Research Forestry 5th, Balikpapan

Purnomo, J. (2005). Tanggapan Varietas Tanaman Jagung terhadap Irradiasi Rendah. Agrosains 7(1), p: 86-93

Purnomo, Suhendar, Janeta, S. 2010. Potensi Nektar Pada Hutan Tanaman Jenis Acacia crassicarpa untuk Mendukung Perlebahan. Laporan Hasil Penelitian Balai Penelitian Hutan Penghasil Serat, Kuok (tidak dipublikasikan)

Purnomo, Suhendar, Janeta, S. 2009. Potensi Nektar Pada Hutan Tanaman Jenis Acacia mangium untuk Mendukung Perlebahan. Laporan Hasil Penelitian Balai Penelitian Hutan Penghasil Serat, Kuok (tidak dipublikasikan)

Rachim, A., Yondra, A., Sebua, J., Radaimon, Ramli, Rintan dan Wazar. 2011. Manual Pengelolaan Madu Hutan Tesso Nilo secara Lestari melalui Pendekatan Sistem Kontrol Internal. Yayasan Tesso Nilo, WWF Indonesia

Rianawaty, I. (2011). Hama dan Penyakit pada Tanaman.https://idarianawaty.files.wordpress.com/2011/07/hama-dan-penyakit-pdf.pdf. Diakses 21 Maret 2016

Schoenbach, V.J. 2000. Phenomenon Of Disease: Concepts in Defining, Classifying, Detecting, and Tracking Disease and Other Health States. The Concept of Natural History – The Spectrum Of Development And Manifestations Of Pathological Conditions in. Individuals And Populations. http://www.epidemiolog.net. Diakses 10 Maret 2016

Somerville, D. C. (2005). Fat Bees Skinny Bees: A Manual on Honey Bee Nutrition for Beekeepers. NSW Department of Primary Industries, New South Wales

Somerville, D.C. (2010). Asian Bees: Fact Sheets. http://www.dpi.nsw.gov.au/__data/assets/pdf_file/0003/382161/Asian-bees.pdf

Suhartati , Aprianis, Y., Pribadi, A., dan Rochmayanto, Y. (2013).  Kajian Dampak Penurunan Daur Tanaman Acacia crassicarpa Cunn.terhadap Nilai Produksi dan Sosial. Jurnal Penelitian Hutan Tanaman 10 (2), p: 109-118

Taiz, L and Zeiger, E. (1998).Plant Physiology.Sinauer Associates. Massachusetts

USAID. (2010). What is a Pest? What is a Pesticide? What are the Risks of Pesticides?.and What is USAID’s Response?. http://www.encapafrica.org/kenya2011MEO/ST_Pesticides_Safer_Use&Compliance_Kenya_15Dec2010.pdf. Diakses 10Maret 2016

Wong, S. T., C. S. and Ambu, L.(2004).Home Range,Movement and Activity Patterns, and Bedding Sites of Malayan Sun Bears(Helarctos malayanus) in The Rainforest of Borneo. Biological Conservation 119, p: 169-181