Konsep Dasar Silvika -


Setelah membaca ini diharapkan pembaca mengerti (1) pengertian silvika (2) ruang lingkup silvika, (3) peranan silvika dalam pengelolaan hutan dan (4) hubungan silvika dengan ilmu lainnya

Penguasaan kompetensi silvika secara baik oleh peneliti kehutanan sangat diperlukan untuk menjadi landasan dalam pengelolaan hutan secara kerkelanjutan. Silvika mempelajari karakter jenis pohon dan sejarah pertumbuhan dan tegakan dan kaitannya dengan sekitarnya dalam hubungannnya yang saling mempengaruhi. Setiap pohon yang tumbuh dalam hutan terdapat faktor-faktor yang mempengaruhinya seperti climate (curah hujan, suhu, kelembaban, kekuatan angin, eksposur sinar matahari dan lainnya) juga lokasi tempat tumbuh/ tanah (unsur air, unsur hara, pH, struktur tanah dan kondisi lainnya) yang typikal di lokasi tersebut. Bahkan setiap pohon yang tumbuh akan mempengaruhi lingkungannya seperti pengendalian erosi tanah dan air, mempengaruhi iklim mikro, sebagai habitat satwa, sumber mata air, tempat rekreasi dan lain sebagainya.

Budi daya hutan berkaitan erat dengan kontrol terhadap proses pembentukan tegakan hutan, pertumbuhan pohon, komposisi jenis tumbuhan, dan kualitas tegakan hutan atau vegetasi (Baker dkk., 1979). 

Pengetahuan tentang sifat­-sifat hutan dan pohon hutan, seperti bagaimana mereka tumbuh, bereproduksi, dan bereaksi terhadap perubahan linglumgan, dipelajari dalam bidang kehutanan yang disebut dengan silvika.

 Silvika merupakan dasar bidang ilmu budi daya pohon, karena budi daya pohon mengandung aspek-aspek penerapan metode penanganan hutan berdasarkan pandangan teori silvika yang dimodifikasi sesuai dengan keadaan dan tujuan pengelolaan hutan. Silvika membicarakan hukum-­hukum pertumbuhan dan perkembangan dan setiap pohon dalam hutan sebagai suatu kesatuan biologis. Di dalam budi daya hutan, keterangan yang diperoleh dari silvika digunakan untuk memproduksi hutan. Selain itu, prinsip-prinsip dan prosedur teknis dikembangkan untuk melakukan pemeliharaan dan pemudaan hutan secara ilmiah.

Untuk dapat menguasai seni menghasilkan hutan, tidak cukup hanya mengetahui prinsip dan cara teknis budi daya pohon saja, tetapi juga harus mencakup praktik budi daya pohon secara terinci untuk semua jenis kayu yang berharga dan juga tipe-tipe hutannya. Karena ada ribuan jenis kayu yang tumbuh di hutan Indonesia dan belum semua diketahui mengenai syarat tumbuh maupun aspek budi daya lainnya.

Pengendalian dan kontrol terhadap struktur tegakan hutan menghendaki kaidah-kaidah yang memadukan pengetahuan biologi, pengelolaan, dan ekonomi. Kaidah tersebut harus sesuai dengan kerangka yang dapat diterima oleh masyarakat karena tidak ada sesuatu yang benar-benar merupakan sistem budi daya pohon yang baik bila pada saat itu pula tidak mengandung pengertian pengelolaan dan nilai social yang baik.

Konsep dasar budi daya pohon adalah bahwa pemilihan perlakuan silvikultur yang tepat, baik pada hutan alam maupun pada hutan tanaman, bergantung pada tingkat kontrol interaksi genotip-lingkungan terhadap perkembangan fisiologis tegakan. Kontrol struktur tegakan berarti kontrol pertumbuhan pohon dan tumbuh-tumbuhan lain dalam tegakan hutan yang diinginkan maupun yang tidak diinginkan. Mengingat bahwa pertumbuhan setiap tumbuhan dikendalikan oleh interaksi genotip-lingkungan, maka seorang kehutanan hams menyadari bahwa semua perlakuan, termasuk pemungutan hasil hutan, penjarangan tegakan hutan, persiapan lokasi tanam, dan pemupukan itu berpengaruh langsung terhadap interaksi tersebut (Baker dkk., 1979). Oleh karena itu, keberhasilan dalam mencapai tujuan pengelolaan hutan sangat ditentukan oleh kemampuan seorang kehutanan meramalkan berbagai alternatif perlakuan dalam membentuk lingkungan yang cocok untuk pertumbuhan pohon. –Redaksi, dikutip dari berbagai sumber–